PEKANBARU, SEPNews: Sebanyak 120 mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi (SEP) Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (FPK Unri), Selasa (30/5/22) melakukan praktikum lapangan ke “Kampung Patin” Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar, Riau. Mereka menggali rahasia sukses industri budidaya ikan Patin “PT Graha Pratama Fish” (PT GPF), dari berbagai aspek sosial ekonomi perikanan. Di antaranya Tata Niaga Hasil Perikanan, Penyuluhan dan Komunikasi Perikanan, Perencanaan dan Penyuluhuan Perikanan, Metodologi Penelitian Kualitatif, dan Media Komunikasi Pembangunan Perikanan. Tujuh dosen dipimpin Ir Ridar Hendri MSi membimbing langsung praktikum ini, masing-masing Ir Kusai MSi, Ir Eni Yulinda MP, Lamun Bathara SPi MSi, Hazmi Arief SPi MSi, Rindi Metalisa SP MSi, dan Clara Yolandika SP MSi.

Aktivitas mahasiswa selama mengikuti praktikum lapangan di Desa Koto Mesjid

Setiba di lokasi, rombongan disambut langsung oleh bos Ir Suhaimi MSi. PT GPF bergerak dalam bidang bisnis budidaya terpadu ikan Patin, mulai dari pembenihan, pembesaran, pemasaran, bahkan pengolahan ikan air tawar khas daerah Riau itu. Saat memaparkan perkembangan bisnisnya di depan ratusan mahasiswa, Suhaimi menjelaskan sejak didirikan 20 tahun lalu, luas lahan budidaya ikan PT GPF sudah mencapai tujuh hektar. Tetapi dampak berganda (multiplier effect) perusahaannya itu sudah sangat luar biasa. “Luas lahan kolam masyarakat sekitarnya sudah mencapai ratusan hektar. Coba nanti saksikan di lapangan,
Tiap keluarga punya satu kolam,” ujarnya.

Suhaimi mengaku, tidak mudah baginya mengembangkan usaha tersebut. Sebab lokasi Desa Koto Mesjid berada di pebukitan, seratusan meter di atas permukaan air sungai Kampar.
Tapi berkat keuletannya, sekarang desa tersebut memasok 40 ton ikan Patin perhari ke berbagai daerah di Riau, Sumbar, dan Jambi. “Ketiadaan sumber air, saya akali dengan membuat sumur-sumur bor. Jadi sumber air kolam di sini, adalah sumur bor,” katanya.

Menjawab tanggapan mahasiswa, Suhaimi mengaku tidak sulit memasarkan benih maupun ikan Patin berukuran besar. Belum selesai dipanen, sudah ditunggu pembeli. Karena itu, tren di Koto Mesjid dan desa sekitarnya sekarang, masyarakat ramai-ramai menebangi pohon karet di kebunnya, untuk disulap menjadi kolam ikan. Suhaimi juga tengah mengembangkan 31 produk olahan ikan Patin, seperti bakso, nugget, dan produk frozen lainnya. “Sebelum balik ke kampus, silakan mampir di mini market olehan ikan Patin kami,’ujarnya berpromosi.

Menurut Suhaimi, dia masih mempunyai satu lagi obsesi strategis, yaitu menjadikan pembudidaya ikan Patin di desa itu sebagai entrepreneur atau pebisnis ikan tangguh. “Target saya satu rumah satu entrepreneur,” katanya berapi-api.

Sarjana pengolahan ikan tamatan Unri itu kemudian membawa para mahasiswa meninjau ke lapangan untuk mendapatkan penjelasan dari para stafnya. Antara lain meninjau kolam induk, kolam pembenihan, kolam pendederan, kolam pembesaran, pengolahan pelet ikan, dan pengolahan ikan.* (Clara)

Leave a Reply