Pekanbaru, 29 September 2025 — Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Riau menyelenggarakan Workshop Pemantapan Kompetensi Mahasiswa bertajuk “Koperasi dan Wirausaha: Sinergi Mahasiswa dalam Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan melalui Koperasi.” Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FPK Prof. Dr. Ir. Rifardi, M.Sc, dan diinisiasi oleh Ketua Jurusan Dr. Hazmi Arief, S.Pi., M.Si. Workshop menghadirkan narasumber Ir. Rizwandi, M.Eng, Pengawas Koperasi Ahli Madya pada Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kota Pekanbaru.

Pada sambutannya, Prof. Rifardi menekankan pentingnya penguatan kompetensi kewirausahaan berbasis koperasi bagi mahasiswa sebagai wujud kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ia mengapresiasi peran jurusan dalam menghadirkan forum pembelajaran praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Ketua Jurusan Dr. Hazmi Arief menyampaikan bahwa workshop ini dirancang untuk menjembatani soft skills kewirausahaan dan literasi perkoperasian dengan kompetensi akademik mahasiswa. “Sinergi antara koperasi dan wirausaha membuka ruang kolaborasi yang nyata—mulai dari pengelolaan usaha bersama, akses pembiayaan, sampai penguatan jejaring pasar—yang selaras dengan visi FPK untuk melahirkan lulusan adaptif, inovatif, dan berdampak,” ujarnya.

Sebagai narasumber, Ir. Rizwandi memaparkan peran strategis koperasi dalam ekosistem kewirausahaan kampus Koperasi yang sehat bertumpu pada prinsip demokrasi ekonomi, asas kekeluargaan, transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif anggota yang ditegakkan melalui tata kelola yang jelas—mulai dari rapat anggota, pengurus profesional, hingga pengawasan dan pelaporan keuangan berkala. Dalam konteks kampus, pendirian koperasi mahasiswa diawali rapat pendirian dan penyusunan AD/ART, pengesahan notaris serta dinas terkait, lalu dikelola dengan struktur pengurus–pengawas yang kuat, unit usaha relevan (toko, kantin, fotokopi, simpan pinjam), serta program pendidikan perkoperasian dan literasi keuangan bagi anggota. Penguatan permodalan dilakukan bertahap melalui simpanan pokok, wajib, dan sukarela, pemupukan cadangan dari SHU, skema simpan pinjam yang prudent, kemitraan dengan UMKM dan lembaga keuangan (mis. KUR, LPDB-KUMKM), hingga akses pembiayaan alternatif seperti dana bergulir atau crowdfunding internal. Transformasi digital mempercepat layanan melalui kasir dan inventori terintegrasi, pembayaran nontunai/QRIS, aplikasi anggota, serta pemasaran komunitas via media sosial, marketplace, dan program duta mahasiswa. Praktik baik yang berkelanjutan dan inklusif menekankan kepatuhan pada standar tata kelola, pendidikan anggota berkelanjutan, audit rutin, model bisnis ramah lingkungan, serta keterlibatan kelompok rentan sehingga manfaat koperasi dirasakan merata dan tahan lama.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa antusias membahas peluang pengembangan unit usaha berbasis potensi lokal, model bisnis yang sesuai dengan karakter komunitas kampus, serta langkah awal menata organisasi, SOP, dan manajemen anggota. Melalui lokakarya ini, peserta diharapkan mampu menyusun rencana tindak lanjut (action plan) pembentukan/ penguatan koperasi mahasiswa dan memetakan peluang usaha yang etis, ramah lingkungan, dan berorientasi dampak sosial.

Menutup kegiatan, panitia menegaskan komitmen untuk menyediakan pendampingan lanjutan, inisiasi pembentukan koperasi mahasiswa, klinik konsultasi perkoperasian dan coaching model bisnis, agar ide-ide mahasiswa dapat segera diakselerasi menjadi program kerja dan unit usaha yang berkelanjutan.